Setiap Hari Pendidikan Nasional, kita selalu diingatkan pada satu kalimat yang sangat kuat: mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalimat ini bukan sekadar kutipan konstitusi, tetapi sebuah amanat besar tentang masa depan Indonesia.
Namun hari ini, jika kita melihat lebih dekat, ada pertanyaan yang mulai terasa semakin nyata: mengapa kampus mulai sepi, sementara media sosial justru semakin ramai?
Di banyak daerah, terutama pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS), jumlah mahasiswa baru terus menjadi tantangan serius. Beberapa kampus berjuang keras mempertahankan operasionalnya. Sebagian lainnya terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran hanya untuk tetap bertahan. Ruang kelas yang dulu penuh, kini tidak lagi seramai sebelumnya.
Di sisi lain, layar ponsel generasi muda justru penuh sesak.
Konten tentang gaya hidup mewah, flexing, affiliate marketing, live shopping, viral challenge, hingga kisah sukses instan menjadi konsumsi harian. Banyak anak muda melihat seseorang bisa terkenal dan menghasilkan uang besar hanya dari satu video, satu konten, atau satu momentum viral.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat jujur dari mereka: kalau bisa sukses tanpa kuliah, untuk apa kuliah?
Ini bukan pertanyaan yang salah. Ini adalah realitas sosial yang harus kita pahami dengan kepala dingin.
Sebagai akademisi ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekadar persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan konstruksi sosial yang dibentuk oleh media. Media sosial hari ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi telah menjadi ruang pembentuk persepsi, cita-cita, bahkan standar kesuksesan.
Generasi muda tidak sedang anti pendidikan. Mereka hanya sedang mencari jalan yang menurut mereka paling realistis untuk bertahan hidup dan berhasil.
Ketika biaya kuliah semakin terasa berat, lapangan kerja semakin kompetitif, dan banyak lulusan sarjana justru masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, maka wajar jika muncul keraguan terhadap nilai pendidikan tinggi itu sendiri.
Di sinilah persoalan besar kita berada.
Pendidikan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Swasta, sedang menghadapi tantangan ganda: tekanan ekonomi dan krisis kepercayaan.
Banyak masyarakat masih melihat kampus swasta sebagai pilihan kedua, bukan pilihan utama. Padahal dalam banyak kasus, justru PTS menjadi ujung tombak pendidikan bagi masyarakat menengah ke bawah yang tidak terserap di Perguruan Tinggi Negeri.
Jika PTS melemah, maka akses pendidikan tinggi juga ikut menyempit.
Pemerintah sebenarnya telah menghadirkan berbagai program yang patut diapresiasi. Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, beasiswa LPDP, revitalisasi pendidikan vokasi, hingga berbagai skema transformasi pendidikan adalah bukti bahwa negara tidak diam.
Langkah ini penting. Sangat penting.
Namun, persoalan pendidikan tidak selesai hanya dengan kebijakan yang baik di atas kertas. Tantangan terbesar selalu ada pada pemerataan dan implementasi.
Masih banyak anak-anak Indonesia yang bahkan belum tersentuh informasi tentang KIP Kuliah. Banyak keluarga yang tidak memahami prosedurnya. Banyak siswa di daerah yang memiliki potensi besar, tetapi kalah oleh keterbatasan akses, jaringan informasi, dan dukungan lingkungan.
Ada pula yang lebih memilih langsung bekerja setelah lulus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga tidak memberi ruang untuk bermimpi lebih jauh.
Artinya, masalah pendidikan kita bukan hanya soal beasiswa, tetapi soal keadilan kesempatan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pendidikan mulai dipersepsikan hanya dari satu sudut: seberapa cepat menghasilkan uang.
Jika kuliah hanya dinilai dari cepat atau lambatnya mendapat pekerjaan, maka kita sedang mempersempit makna pendidikan itu sendiri.
Pendidikan bukan hanya tentang bekerja. Pendidikan adalah tentang cara berpikir, kemampuan mengambil keputusan, karakter, kepemimpinan, dan kualitas manusia itu sendiri.
Bangsa yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya ingin cepat kaya, tetapi oleh manusia yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi jangka panjang.
Tentu kita tidak bisa menolak perubahan zaman. Dunia digital membuka peluang baru yang luar biasa. Profesi seperti content creator, influencer, affiliator, dan entrepreneur digital adalah bagian dari transformasi ekonomi modern yang sah dan positif.
Tetapi kita juga tidak boleh membiarkan generasi muda percaya bahwa kesuksesan hanya lahir dari viralitas.
Karena yang viral belum tentu bernilai. Dan yang bernilai sering kali membutuhkan proses panjang.
Di sinilah peran pendidikan harus diperkuat, bukan ditinggalkan.
Kampus harus berani berubah. Pendidikan tinggi tidak boleh berjalan dengan cara lama untuk menghadapi tantangan baru. Perguruan tinggi harus lebih relevan dengan kebutuhan zaman, lebih dekat dengan dunia industri, lebih adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap menjaga kualitas intelektualnya.
PTS juga perlu diposisikan bukan sekadar tempat kuliah, tetapi sebagai pusat inovasi lokal yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekitar.
Media pun memiliki tanggung jawab yang sama besar.
Kita perlu lebih banyak narasi tentang proses, bukan hanya hasil. Tentang perjuangan, bukan hanya pencapaian. Tentang kompetensi, bukan sekadar popularitas.
Karena jika ruang digital hanya dipenuhi oleh ilusi kesuksesan instan, maka pendidikan akan terus kalah oleh persepsi.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa mencerdaskan bangsa bukan tugas pemerintah semata.
Ini adalah kerja kolektif.
Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat. Kampus membutuhkan kepercayaan publik. Orang tua membutuhkan keyakinan bahwa pendidikan anaknya masih punya masa depan. Generasi muda membutuhkan alasan untuk tetap percaya bahwa belajar adalah investasi terbaik.
Mendukung program pemerintah di sektor pendidikan bukan berarti kita berhenti mengkritik. Justru kritik yang sehat adalah bentuk dukungan paling nyata, selama tujuannya adalah perbaikan.
Karena pendidikan bukan proyek lima tahunan. Pendidikan adalah proyek peradaban.
Dan jika hari ini kampus mulai sepi, sementara media sosial semakin ramai, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya ada apa dengan anak muda kita.
Tetapi, ada apa dengan cara kita memaknai pendidikan itu sendiri?